MARKET
Selasa, 29 September 2026
YIELD MELONJAK DAN MINYAK NAIK, PASAR MAKIN WASPADA JELANG DATA AS
Dolar tetap kuat sementara gold dan saham tertekan oleh lonjakan yield serta ekspektasi Fed hawkish, dengan minyak kembali naik di tengah ketidakpastian negosiasi AS Iran.
MATA UANG — DOLAR TETAP DOMINAN DI TENGAH LONJAKAN YIELD DAN EKSPEKTASI FED HAWKISH
Pasar mata uang masih didominasi kekuatan dolar AS setelah yield Treasury kembali naik ke level tertinggi dalam hampir dua dekade. Indeks dolar bergerak di sekitar 101,20 dan berada dekat level tertinggi dua bulan, didukung oleh meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve masih akan menaikkan suku bunga.
EUR/USD melemah ke sekitar 1,1369 karena perbedaan suku bunga antara AS dan Eropa tetap menguntungkan dolar. Poundsterling bergerak di sekitar 1,3253, dengan pasar masih mempertimbangkan inflasi Inggris yang tinggi di tengah momentum ekonomi yang mulai melambat.
Yen Jepang berada di sekitar 157,41 per dolar. Meskipun pemerintah Jepang kembali memberikan perhatian terhadap pelemahan yen, selisih suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat masih menjadi tekanan utama bagi mata uang tersebut.
Australian dollar juga bergerak melemah menjelang keputusan Reserve Bank of Australia. Pasar memperkirakan peluang besar kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,6 persen akibat risiko inflasi yang masih tinggi.
OIL — MINYAK TERUS NAIK SAAT DIPLOMASI AS IRAN BELUM MENUNJUKKAN KEMAJUAN
Harga minyak kembali menguat karena belum ada kemajuan signifikan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Brent naik sekitar 1,3 persen ke 106,60 dolar per barel, sementara WTI menguat sekitar 1,1 persen ke 93,60 dolar per barel. Brent bahkan sempat mendekati 109 dolar pada sesi sebelumnya sebelum memangkas sebagian kenaikannya.
Mediator Qatar dilaporkan masih berusaha mempertemukan posisi kedua pihak melalui proposal baru terkait pembukaan Selat Hormuz. Namun kedua pihak masih terlihat pesimistis bahwa kesepakatan dapat tercapai dalam waktu dekat.
Di sisi lain, pasokan minyak dari Timur Tengah mulai menunjukkan pemulihan. Ekspor produsen utama kawasan naik menjadi sekitar 12,8 juta barel per hari pada September, level tertinggi sejak Februari.
Arab Saudi juga telah memperbaiki East West Pipeline dan kembali mengirim minyak melalui Yanbu. Meski pasokan mulai membaik, tingginya biaya logistik dan risiko keamanan di kawasan Teluk masih menjaga premi risiko harga minyak tetap tinggi.
GOLD — EMAS DEKATI LEVEL TERENDAH TUJUH MINGGU DI TENGAH YIELD TINGGI
Harga emas masih berada di bawah tekanan setelah mengalami penurunan sekitar 4 persen pada sesi sebelumnya. XAU/USD bergerak di sekitar 4.118 hingga 4.135 dolar per ounce dan berada dekat level terendah dalam tujuh minggu.
Tekanan terhadap gold terutama berasal dari lonjakan yield Treasury dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Yield Treasury tenor 10 tahun naik ke sekitar 5,23 persen dan berada di level tertinggi sejak 2007.
Harga minyak yang tetap tinggi juga memperkuat kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 70 persen bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lagi pada Oktober.
Gold telah turun sekitar 7 persen sepanjang September setelah sebelumnya sempat mencapai sekitar 4.510 dolar per ounce. Selama yield dan ekspektasi suku bunga tetap tinggi, tekanan terhadap emas masih berpotensi berlanjut.
Fokus berikutnya adalah data PCE pada Rabu serta laporan Nonfarm Payrolls pada Jumat yang dapat menentukan ekspektasi pasar terhadap kebijakan Fed selanjutnya.
SAHAM AS — WALL STREET TERTEKAN YIELD TINGGI DAN KEKHAWATIRAN PERLAMBATAN AI
Pasar saham AS mengalami tekanan setelah lonjakan yield obligasi dan kekhawatiran terhadap perlambatan pengembangan artificial intelligence mengurangi minat investor terhadap sektor teknologi.
Nasdaq Composite turun sekitar 0,9 persen, S&P 500 melemah 0,77 persen, dan Dow Jones turun 0,67 persen. Futures indeks AS juga bergerak sedikit negatif pada perdagangan berikutnya.
Sentimen teknologi memburuk setelah laporan menyebut OpenAI menghentikan training sejumlah model baru dan membatalkan rencana peluncuran model dalam waktu dekat.
Perkembangan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa perlambatan pengembangan AI dapat mengurangi permintaan terhadap chip, server, data center, dan kapasitas komputasi yang selama ini menjadi salah satu pendorong utama reli saham teknologi.
Selain sektor AI, yield Treasury yang bertahan di atas 5 persen juga menjadi tekanan bagi valuasi saham. Pasar sekarang menunggu data tenaga kerja AS dan komentar pejabat Federal Reserve untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga berikutnya.
DOLLAR — YIELD TREASURY TERTINGGI SEJAK 2007 DORONG DOLAR KE LEVEL TERTINGGI DUA BULAN
Indeks dolar AS bergerak di sekitar 101,20 dan berada dekat level tertinggi sejak akhir Juli. Dolar juga menuju performa bulanan terbaiknya sejak Juni.
Penguatan dolar terutama didorong oleh kenaikan tajam yield Treasury. Yield tenor 10 tahun mencapai sekitar 5,237 persen, sementara yield 30 tahun naik ke sekitar 5,553 persen.
Kombinasi pertumbuhan ekonomi AS yang masih kuat, harga minyak tinggi, dan inflasi yang sulit turun membuat pasar semakin memperkirakan bahwa Federal Reserve belum selesai menaikkan suku bunga.
Probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin pada Oktober kini berada di sekitar 70 persen, meningkat signifikan dibandingkan satu minggu sebelumnya.
Meski demikian, arah dolar pekan ini akan sangat bergantung pada data JOLTS, PCE, dan Nonfarm Payrolls. Data yang tetap kuat berpotensi mempertahankan dukungan terhadap dolar, sedangkan pelemahan signifikan pada pasar tenaga kerja dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga.
MARKET OUTLOOK — YIELD TINGGI DAN MINYAK MASIH MENJADI TEKANAN UTAMA PASAR
Secara keseluruhan, sentimen pasar masih cenderung defensif. Tingginya harga minyak dan yield Treasury memperkuat kekhawatiran inflasi serta ekspektasi kenaikan suku bunga Fed, sehingga mendukung dolar tetapi menekan gold dan saham teknologi. Ketidakpastian AS Iran juga menjaga volatilitas tetap tinggi. Fokus utama pasar berikutnya tertuju pada data JOLTS, PCE, Nonfarm Payrolls, dan komentar pejabat Fed yang akan menentukan arah ekspektasi suku bunga.
