MARKET
Jumat, 25 September 2026
YIELD AS MELONJAK, MINYAK TINGGI DAN PASAR MENANTI HASIL TRUMP XI
Dolar tetap kuat dan gold serta saham tertekan oleh kenaikan yield dan ekspektasi Fed hawkish, sementara ketegangan Timur Tengah menjaga harga minyak tetap tinggi di tengah harapan diplomasi AS Iran.
MATA UANG — DOLAR KUAT TEKAN EURO DAN YEN, PASAR CERNA HASIL PERTEMUAN TRUMP XI
Pasar mata uang masih didominasi penguatan dolar AS seiring lonjakan yield Treasury dan meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga.
EUR/USD bergerak di sekitar 1,1380 setelah dolar menguat selama empat sesi berturut-turut. Poundsterling juga melemah ke sekitar 1,3217 karena pasar semakin memilih dolar di tengah perbedaan prospek kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan negara utama lainnya.
Yen Jepang menjadi salah satu mata uang yang mendapat tekanan cukup besar. USD/JPY naik ke sekitar 158,84 dan mencatat pelemahan yen selama lima sesi berturut-turut. Pasar mulai semakin memperhatikan kemungkinan intervensi dari otoritas Jepang, terutama setelah Bank of Japan dinilai belum cukup agresif dalam menaikkan suku bunga.
Yuan China relatif stabil di sekitar 6,7128 per dolar setelah pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping selesai. Kedua negara menyampaikan komentar positif mengenai hubungan perdagangan, tetapi pasar masih menunggu detail konkret mengenai hasil pembicaraan tersebut.
OIL — RISIKO GEOPOLITIK TETAP TINGGI MESKI AS DAN IRAN JAJAKI JALUR DIPLOMASI
Harga minyak sedikit terkoreksi setelah sebelumnya mengalami lonjakan tajam. Brent turun ke sekitar 105,94 dolar per barel, sedangkan WTI berada di sekitar 93,86 dolar per barel.
Pada sesi sebelumnya, kedua benchmark sempat naik hingga sekitar 5 persen setelah serangan rudal Houthi terhadap Arab Saudi kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan infrastruktur dan jalur ekspor minyak di kawasan Timur Tengah.
Arab Saudi mengatakan telah mencegat enam rudal balistik yang diarahkan ke beberapa wilayah termasuk Taif dan kawasan Yanbu. Yanbu menjadi perhatian karena merupakan salah satu pusat utama ekspor minyak Arab Saudi melalui Laut Merah.
Di sisi lain, laporan mengenai pembicaraan Amerika Serikat dan Iran mulai meredakan sebagian kekhawatiran pasar. Kedua pihak disebut sedang menjajaki kesepakatan bertahap yang dapat mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dengan imbalan pelonggaran blokade ekonomi AS terhadap Iran.
Namun ketidakpastian masih tinggi karena kedua pihak belum mencapai kesepakatan. Aktivitas kapal di Selat Hormuz juga masih jauh di bawah kondisi normal sehingga risiko gangguan pasokan tetap menjadi faktor utama yang menopang harga minyak.
GOLD — EMAS MASIH TERTEKAN YIELD TINGGI DAN EKSPEKTASI KENAIKAN SUKU BUNGA FED
Harga emas masih berada di bawah tekanan setelah mengalami aksi jual tajam. Spot gold sempat turun ke sekitar 4.275 dolar per ounce, sementara pergerakan berikutnya berada di sekitar 4.290 dolar.
Tekanan terhadap emas terutama berasal dari lonjakan yield Treasury AS. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik hingga sekitar 5,205 persen, level tertinggi sejak 2007.
Data ekonomi AS juga menunjukkan aktivitas bisnis masih kuat sementara tekanan harga kembali meningkat. Kondisi tersebut membuat pasar semakin memperkirakan bahwa Federal Reserve harus mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk menekan inflasi.
Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober berada di kisaran 70 persen hingga 77 persen, meningkat signifikan dibanding satu minggu sebelumnya. Ekspektasi kenaikan suku bunga juga mulai bergeser ke pertemuan Desember.
Kombinasi yield tinggi, dolar kuat, dan ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi tekanan utama bagi gold. Meski ketidakpastian geopolitik masih memberikan dukungan sebagai aset safe haven, faktor moneter saat ini terlihat lebih dominan terhadap pergerakan emas.
SAHAM AS — WALL STREET TERTEKAN YIELD TINGGI, MINYAK DAN KEKHAWATIRAN SEKTOR AI
Futures indeks saham AS kembali bergerak sedikit melemah. S&P 500 Futures turun sekitar 0,15 persen, Nasdaq 100 Futures melemah sekitar 0,2 persen, dan Dow Jones Futures turun sekitar 0,1 persen.
Tekanan utama berasal dari lonjakan yield Treasury yang meningkatkan kekhawatiran terhadap valuasi saham, khususnya sektor teknologi. Harga minyak yang kembali berada di atas 100 dolar juga meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan tinggi lebih lama.
Sektor teknologi mendapat tekanan tambahan setelah laporan menyebut Oracle mengeluarkan pemberitahuan force majeure terhadap proyek pusat data AI besar di New Mexico karena keterlambatan pasokan listrik. Saham Oracle turun lebih dari 5 persen.
Namun sentimen teknologi tidak sepenuhnya negatif. Meta naik sekitar 4,5 persen setelah memperkenalkan sejumlah produk smart glasses berbasis AI dan fitur baru untuk Muse AI.
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping juga menjadi perhatian utama pasar. Kedua pemimpin menyampaikan pernyataan positif setelah pertemuan, tetapi belum banyak detail konkret mengenai kesepakatan perdagangan, AI, chip, maupun isu strategis lainnya yang diumumkan kepada publik.
DOLLAR — DOLAR SENTUH LEVEL TERTINGGI DUA BULAN DIDUKUNG YIELD DAN FED HAWKISH
Indeks dolar naik ke sekitar 101,26 dan mencatat level tertinggi sejak akhir Juli. Dolar telah menguat selama empat sesi berturut-turut.
Penguatan dolar didukung kenaikan yield Treasury dan semakin kuatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Yield Treasury AS tenor 10 tahun mencapai sekitar 5,205 persen setelah pasar obligasi kembali mengalami tekanan jual.
Data aktivitas bisnis AS menunjukkan pertumbuhan ekonomi masih cukup solid. Pada saat yang sama, tekanan harga juga meningkat dengan kenaikan biaya bahan baku, energi, dan transportasi.
Kondisi ekonomi yang kuat tetapi inflasi tetap tinggi membuat investor memperkirakan The Fed masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga.
Selama yield Treasury tetap tinggi dan ekspektasi Fed hawkish bertahan, dolar masih memiliki dukungan kuat. Namun perkembangan harga minyak dan detail hasil pertemuan Trump dan Xi dapat menjadi katalis berikutnya bagi pergerakan dolar.
MARKET OUTLOOK — PASAR MASIH TERTEKAN YIELD TINGGI DAN RISIKO INFLASI
Secara keseluruhan, sentimen pasar masih cenderung hati-hati. Lonjakan yield Treasury dan harga minyak memperkuat kekhawatiran inflasi serta ekspektasi kenaikan suku bunga Fed, sehingga mendukung dolar tetapi menekan gold dan saham. Oil masih sangat sensitif terhadap konflik Timur Tengah, sementara pasar menunggu detail konkret dari hasil pertemuan Trump dan Xi untuk menentukan arah sentimen berikutnya.
