MARKET
Kamis, 24 September 2026
YIELD AS MELONJAK, DOLAR MENGUAT JELANG PERTEMUAN TRUMP XI
Kenaikan yield Treasury dan ekspektasi suku bunga Fed yang lebih tinggi menekan saham serta gold, sementara oil tetap volatil di tengah ketegangan AS Iran dan pasar menanti hasil pertemuan Trump Xi.
MATA UANG UTAMA TERTEKAN DI TENGAH PENGUATAN DOLAR DAN EKSPEKTASI KENAIKAN SUKU BUNGA FED
Pasar mata uang kembali didominasi penguatan dolar AS setelah data ekonomi Amerika yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih belum terkendali. Kondisi tersebut mendorong pasar kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
EUR/USD turun ke sekitar 1,1378 dan menyentuh level terendah dalam dua bulan. GBP/USD juga melemah ke sekitar 1,3231, mendekati level terendah dalam tiga bulan. Tekanan terhadap euro dan pound terutama berasal dari perbedaan prospek suku bunga dengan Amerika Serikat yang semakin mendukung dolar.
Yen Jepang berada di sekitar 157,9 per dolar dan masih dekat level terlemah tiga minggu. Pasar mulai kembali memperhatikan kemungkinan intervensi pemerintah Jepang apabila pelemahan yen semakin dalam. Sementara itu, yuan relatif stabil menjelang pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping yang akan membahas perdagangan, teknologi, Taiwan, dan hubungan kedua negara.
KETEGANGAN AS IRAN KEMBALI ANGKAT MINYAK, SELAT HORMUZ JADI FOKUS UTAMA
Harga minyak mengalami volatilitas tinggi setelah Brent sempat melonjak hampir 4 persen pada perdagangan sebelumnya akibat meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Brent kemudian terkoreksi sekitar 1 persen ke sekitar 102,10 dolar per barel, sementara WTI turun sekitar 0,7 persen ke 91,50 dolar per barel. Koreksi terjadi setelah pasar melihat bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup meskipun perbedaan antara Washington dan Tehran masih cukup besar.
Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama karena jalur tersebut biasanya menangani sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia. Iran menegaskan bahwa jalur tersebut tidak akan kembali dibuka sebelum sejumlah tuntutannya dipenuhi.
Di sisi lain, peningkatan pasokan dari kawasan Teluk mulai membatasi kenaikan harga minyak. Arab Saudi telah kembali mengoperasikan jalur East West Pipeline menuju Laut Merah, sementara Irak meningkatkan ekspor melalui Turki.
Persediaan minyak mentah AS juga naik sekitar 3 juta barel menjadi 426,4 juta barel, jauh berbeda dari ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan. Data tersebut menjadi faktor yang menahan penguatan harga minyak lebih lanjut.
EMAS TERTEKAN OLEH YIELD TINGGI DAN EKSPEKTASI FED SEMAKIN HAWKISH
Harga emas bergerak relatif datar setelah mengalami tekanan jual cukup tajam pada sesi sebelumnya. XAU/USD berada di sekitar 4.295 dolar per ounce setelah naik tipis sekitar 0,2 persen.
Tekanan utama terhadap emas berasal dari kenaikan yield Treasury AS dan dolar yang tetap kuat. Yield Treasury tenor lima tahun bahkan menembus 5 persen untuk pertama kalinya sejak 2007 setelah data ekonomi AS menunjukkan aktivitas bisnis yang lebih kuat dari perkiraan.
Kenaikan harga minyak juga kembali meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan tinggi. Kondisi tersebut memperkuat kemungkinan Federal Reserve harus kembali menaikkan suku bunga untuk membawa inflasi menuju target 2 persen.
Pasar swap bahkan mulai memperhitungkan setidaknya tiga kenaikan suku bunga Fed hingga April tahun depan. Lingkungan suku bunga dan yield yang tinggi menjadi hambatan besar bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil.
Meski masih mendapat dukungan dari ketidakpastian geopolitik dalam jangka panjang, untuk saat ini kombinasi dolar kuat, yield tinggi, ekonomi AS yang solid, dan kebijakan Fed yang hawkish masih memberikan tekanan terhadap harga emas.
WALL STREET TERTEKAN KENAIKAN YIELD JELANG PERTEMUAN TRUMP XI
Wall Street mengalami tekanan setelah lonjakan yield Treasury memukul saham-saham teknologi. Nasdaq menjadi indeks yang mengalami tekanan terbesar dengan penurunan sekitar 1,1 persen dari rekor tertinggi yang dicapai sebelumnya.
S&P 500 turun sekitar 0,75 persen, Dow Jones melemah 0,68 persen, sementara Nasdaq turun sekitar 1,13 persen. Futures indeks AS juga masih bergerak sedikit negatif menjelang perdagangan berikutnya.
Tekanan muncul setelah data PMI Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan menunjukkan ekonomi masih cukup solid. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve masih perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk mengendalikan inflasi.
Saham teknologi menjadi salah satu kelompok paling sensitif terhadap kenaikan yield karena valuasinya sangat bergantung pada ekspektasi suku bunga jangka panjang.
Fokus pasar sekarang tertuju pada pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Washington. Pembahasan diperkirakan mencakup perdagangan, artificial intelligence, ekspor chip AI ke China, rare earth, hingga pembelian produk pertanian AS. Washington dan Beijing juga dilaporkan telah sepakat memperpanjang gencatan perdagangan selama dua bulan hingga awal Januari.
DOLAR SENTUH LEVEL TERTINGGI DUA BULAN SEIRING LONJAKAN YIELD TREASURY
Indeks dolar bertahan di sekitar 101,1 dan berada dekat level tertinggi dalam dua bulan. Penguatan dolar mendapat dukungan kuat dari lonjakan yield Treasury serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Data aktivitas bisnis AS yang lebih kuat dari perkiraan kembali menimbulkan kekhawatiran bahwa ekonomi masih terlalu kuat dan tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama. Lelang obligasi Treasury tenor lima tahun yang kurang diminati juga memicu aksi jual obligasi sehingga mendorong yield naik di atas 5 persen.
Komentar hawkish dari Gubernur Federal Reserve Michael Barr semakin memperkuat ekspektasi pasar bahwa kenaikan suku bunga tambahan masih diperlukan.
Pasar saat ini memperkirakan peluang hampir 70 persen bahwa The Fed kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober, meningkat dari sekitar 50 persen pada pekan sebelumnya.
Selama ekonomi AS tetap kuat, inflasi sulit turun, dan yield Treasury bertahan tinggi, dolar berpotensi tetap mendapatkan dukungan. Namun arah selanjutnya juga akan sangat dipengaruhi perkembangan pertemuan Trump dan Xi serta konflik Amerika Serikat dengan Iran.
MARKET OUTLOOK — YIELD DAN DOLAR KUAT MENJADI TEKANAN UTAMA PASAR
Secara keseluruhan, sentimen pasar hari ini cenderung hati-hati. Data ekonomi AS yang kuat dan kenaikan yield Treasury memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga Fed sehingga mendukung dolar, tetapi menekan saham teknologi dan gold. Oil masih sangat sensitif terhadap perkembangan konflik AS Iran dan situasi Selat Hormuz. Sementara itu, pertemuan Trump dan Xi menjadi katalis utama berikutnya yang berpotensi menentukan arah sentimen pasar global.
