MARKET
Selasa, 8 September 2026
Wall Street Waspada: Inflasi, Lonjakan Minyak, dan Risiko Kenaikan Suku Bunga The Fed Tekan Sentimen Pasar
Pasar global cenderung berhati-hati karena lonjakan harga minyak, konflik AS–Iran, dan meningkatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed.
Futures Wall Street Mixed di Tengah Kekhawatiran Inflasi dan Suku Bunga
Futures saham AS bergerak mixed setelah libur Labor Day. Dow Jones Futures turun 0,6%, S&P 500 Futures melemah tipis 0,1%, sementara Nasdaq 100 Futures naik sekitar 0,3%.
Sentimen pasar masih dibayangi data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan, kenaikan harga minyak, serta meningkatnya peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan 15–16 September.
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed September Naik ke Sekitar 60%
AS mencatat penambahan 162.000 tenaga kerja pada Agustus, lebih tinggi dari perkiraan, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1%.
Pasar kini memperkirakan sekitar 60% peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. UBS juga merevisi proyeksinya dan memperkirakan dua kali kenaikan suku bunga tahun ini, pada September dan Desember.
Fokus selanjutnya tertuju pada data PPI AS hari Kamis dan CPI hari Jumat yang berpotensi menjadi penentu keputusan The Fed.
Minyak Bertahan Tinggi karena Konflik AS–Iran dan Risiko Gangguan Hormuz
Harga minyak bertahan tinggi akibat meningkatnya konflik AS–Iran dan kekhawatiran gangguan suplai melalui Selat Hormuz.
Brent diperdagangkan di sekitar $97 per barel, sementara WTI berada di atas $92. Aktivitas pelayaran melalui Hormuz turun tajam, meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
OPEC+ juga memutuskan mempertahankan produksi minyak pada Oktober setelah enam bulan berturut-turut meningkatkan output.
Emas Tertekan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga tetapi Ditopang Risiko Geopolitik
Emas bergerak di area $4.400 per ounce karena tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan penguatan dolar AS.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak masih memberikan dukungan terhadap permintaan aset safe haven.
Pasar emas diperkirakan tetap sensitif terhadap rilis PPI dan CPI AS pekan ini.
Ekonomi Jepang Tumbuh Lebih Kuat dan Mendukung Normalisasi Kebijakan BOJ
Ekonomi Jepang tumbuh lebih kuat dari perkiraan pada kuartal II.
GDP tumbuh 1,4% secara annualized, di atas perkiraan 1,1%, sementara pertumbuhan kuartalan mencapai 0,4%.
Data ini dapat memperkuat peluang Bank of Japan melanjutkan normalisasi kebijakan moneter, meskipun konsumsi domestik masih relatif lemah.
Pasar Fokus pada Data Inflasi AS dan Eskalasi Konflik Timur Tengah
• Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed September
• Data PPI AS – Kamis
• Data CPI AS – Jumat
• Pergerakan harga minyak Brent di sekitar $97
• Konflik AS–Iran dan Selat Hormuz
• Respons dolar AS dan emas terhadap data inflasi
Risk-Off Mendominasi Menjelang Data Inflasi AS
Sentimen pasar cenderung berhati-hati dengan bias risk-off. Kombinasi data tenaga kerja AS yang kuat, harga minyak tinggi dan tekanan inflasi meningkatkan peluang kebijakan The Fed tetap hawkish.
Untuk jangka pendek, volatilitas berpotensi meningkat menjelang rilis PPI dan CPI AS. Minyak masih memiliki dukungan dari risiko geopolitik, sementara emas menghadapi tarik-menarik antara permintaan safe haven dan tekanan dari potensi kenaikan suku bunga.
